Mau Foto Produk Jualan Online Jadi Lebih Menarik? Jualan di Blibli.com Saja!


Semenjak menjadi seorang ibu, saya mulai bermimpi untuk mendirikan sebuah usaha. Tujuan nya tentu saja agar bisa lebih dekat dengan anak. Dengan memiliki sebuah usaha, maka pekerjaan lebih fleksibel sehingga waktu bersama anak pun menjadi lebih banyak. 

Seringkali terbesit dalam pikiran saya untuk resign saja dan membangun usaha dari rumah. Memiliki toko susu dan diapers adalah salah satu impian saya mengingat barang tersebut dibutuhkan setiap waktu dan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi ibu-ibu yang memiliki anak bayi. 

Akan tetapi setelah dihitung-hitung, ternyata membangun usaha dari rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh modal yang besar untuk memulainya. Apalagi untuk mendirikan toko susu dan diapers, butuh lahan yang strategis agar penjualan lebih maksimal.


Asus Vivobook Ultra A412DA : Laptop Mungil dan Colorful, Cocok Dukung Aktivitas Kaum Millenials


“Generasi millenial merupakan generasi yang aktif, inovatif dan produktif serta mampu membawa perubahan-perubahan baru dalam gaya hidup masyarakat” 

Ya. Anak-anak muda jaman now yang saat ini akrab disapa sebagai kaum milenial dipercaya mampu membawa perubahan-perubahan baru dalam gaya hidup masyarakat. Bahkan, banyak tren yang muncul saat ini terinspirasi dari kaum millenial.

Lahir dan tumbuh di era digital, membuat kaum millenial lebih melek teknologi. Mereka bisa terhubung dengan teknologi selama 24 jam. Bukan kecanduan, tetapi memang pekerjaan ataupun aktivitas mereka menuntut untuk berkutat dengan teknologi selama hampir 24 jam.

Tak sedikit milenial yang aktif menjadi influencer dan content creator seperti youtuber atau blogger, yang mana hal ini tentu dilakukan diluar pekerjaan utamanya. Dari kegiatan tersebut, millenials dapat mengembangkan diri bahkan mampu menambah pundi-pundi rupiah. Oleh karenanya, milenial dikenal multitasking, sebab mampu mengerjakan beberapa tugas bersamaan dalam waktu cepat.



Pentingnya Asuransi Pendidikan Untuk Masa Depan Anak


“Kalau gak dikuliahin, mau tidur aja setiap hari” 

Begitulah kalimat yang diucapkan oleh kakak saya setelah lulus SMA. Kakak berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, namun kondisi keuangan keluarga saat itu sedang sulit. Oleh karena itu, Bapak meminta kakak untuk langsung kerja saja dan mengubur dalam-dalam keinginannya untuk kuliah. 

Namun, mendengar jawaban kakak yang seperti itu, tentu Bapak tidak tega. Akhirnya, berbagai upaya bapak lakukan agar anak sulung nya bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. 

Meski Bapak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun penghasilannya saat itu masih sangat rendah. Ya, tidak seperti sekarang yang mana menjadi PNS adalah dambaan setiap orang. Dulu, PNS dipandang sebelah mata karena gaji nya yang terlampaui rendah. Oleh karena itu, setiap libur kerja, bapak juga melakukan pekerjaan lainnya, mulai dari menjadi tukang gali sumur hingga kerja bangunan. Semua dilakukan demi bisa membiayai sekolah untuk anak-anaknya.



Kekinian dan Instgramable, 5 Tempat Wisata di Kota Malang Ini Wajib Kamu Kunjungi!



Malang. Entah kenapa menjadi salah satu kota favorit bagi saya. Sejak kedatangan saya ke kota tersebut pada tahun 2014 silam, rasanya saya selalu ingin kembali lagi kesana. Mungkin udara yang sejuk serta banyaknya keindahan alam yang ditawarkan, membuat saya ketagihan untuk mengunjunginya. 

Pertama kali saya ke Malang adalah ketika sedang KKL pada tahun 2014 lalu. Saat itu saya KKL selama 3 hari di kota tersebut. Ya, sebentar banget memang, karena di jurusan saya saat itu, KKL hanya kunjungan industri saja dan sisa nya dilanjut dengan jalan-jalan mengunjungi destinasi wisata di kota tersebut.



7 Alasan Mengapa Smartphone Vivo S1 Cocok Untuk Ibu Millenial


Seluruh isi dalam tas sudah saya keluarkan, namun tidak juga saya temukan handphone yang baru tiga bulan ini menemani aktivitas saya. Ah, pasti tertinggal di mobil Pak Budi. Begitu yang ada didalam benak saya. 

Sementara mobil angkutan umum yang saya tumpangi terus melaju, saya masih santai menanggapi ketiadaan handphone dalam tas. Turun dari angkutan umum, lalu berganti menaiki commuter line, saya masih tetap berpikiran positif. Yang saya pikirkan hanya ingin segera sampai di rumah agar bisa menghubungi pak Budi untuk menanyakan keberadaan handphone saya.