Pengalaman Kuret Menggunakan BPJS Ditengah Pandemi Covid-19


Pengalaman Kuret Menggunakan BPJS

Saat dokter menyatakan bahwa janin saya telah berhenti berkembang, dokter langsung menyarankan saya untuk segera dilakukan tindakan kuret. Dokter memberikan 2 opsi untuk kuret, yaitu kuret di bidan saja (nanti beliau yang datang ke bidan tersebut) atau kuret menggunakan BPJS Kesehatan di RS. Permata Ibu, yang merupakan rumah sakit rujukan saya. 

Sebenarnya dokter lebih menyarankan untuk melakukan tindakan kuret di bidan saja agar tidak berinteraksi atau kontak dengan banyak orang, mengingat saat ini sedang pandemi Covid-19. Namun setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk kuret menggunakan BPJS saja. 

Saya berpikir bila BPJS masih bisa dimanfaatkan kenapa tidak digunakan, lagi pula dompet saya sedang kering kerontang karena sebulan sebelumnya suami baru saja menjalani operasi patah tulang clavicula yang mana menghabiskan uang puluhan juta. 

Jadilah saya menjalani operasi kuret di RS. Permata Ibu, Kunciran, Tangerang dengan menggunakan BPJS Kesehatan. Dan sebelum tindakan, saya pun mengurus berbagai kelengkapan sebagai syarat agar bisa menggunakan BPJS..

Langkah Mudah Operasi Kuret Menggunakan BPJS Kesehatan

Memang bila menggunakan BPJS prosedurnya agak sedikit ribet. Saya pun awalnya gak mau menggunakan BPJS karena malas mengurusnya. Tapi ternyata kalau sudah dijalani gak terlalu ribet kok.. 

#1. Datang Ke Faskes 1 Untuk Meminta Surat Rujukan

Agar BPJS bisa digunakan, maka kita harus mendapatkan surat rujukan terlebih dahulu dari faskes satu. Alhasil, saya pun mendatangi faskes 1 di Puskesmas Larangan Utara. Saya pikir bakalan ribet banget alurnya, belum lagi antriannya yang panjang. Tapi Alhamdulillah, saat pandemi Covid ini, puskesmas jadi jauh lebih teratur dan tertib.

Saat sampai Puskesmas, saya langsung menuju ke bagian dokter kandungan. Dengan membawa buku kontrol (buku pink), saya menjelaskan kondisi yang saya alami. Setelah mengerti kondisi saya, bidan pun langsung membuatkan surat rujukan. Surat rujukan ini berlaku hingga 3 bulan kemudian.

#2. Datang Ke IGD Rumah Sakit yang dituju

Setelah mendapatkan surat rujukan, keesokannya saya datang ke RS. Permata Ibu. Saran dari bidan agar saya datang di sore hari saja supaya tidak perlu lama menunggu di RS. Perlu diketahui bahwa salah satu syarat untuk melakukan tindakan kuret menggunakan BPJS adalah harus rawat inap semalam terlebih dahulu, sementara proses kuret baru akan dilakukan keesokan harinya. Jadi, disarankan untuk datang sore hari saja biar gak kelamaan di RS. 

#3. Tes Covid-19, Rontgen Paru dan Cek Darah Lengkap

Mengingat saat ini sedang pandemi Covid-19, jadilah bila ingin melakukan operasi atau rawat inap di RS, kita harus test Covid terlebih dahulu. Bila hasilnya bagus, maka tindakan bisa berlangsung. Namun, bila ternyata hasilnya positif maka kita akan dirujuk ke RS rujukan Covid. Serem ya.. huhu.. 

Tes Covid yang saya jalani yaitu rapid test dan rontgen paru. Jadi, karena tidak menggunakan swab test dan disatu sisi rapid test juga kurang akurat, maka perlu juga dilakukan rontgen paru untuk memastikan bahwa paru-paru kita benar-benar dalam kondisi yang baik. Mengingat, Covid menyerangnya ke paru-paru, jadi bisa terlihat dari hasil rontgen tersebut. 

Setelah dicek, Alhamdulillah hasil tes Covid dan cek darah lengkap saya bagus sehingga saya bisa melakukan operasi kuret di RS tersebut. 

Ohya, dalam hal ini biaya rapid test tidak ditanggung BPJS, sehingga saya harus membayar sendiri sebesar Rp 170.000. Alhamdulillah, masih terjangkau.. 

Proses Kuret di RS. Permata Ibu..

Menjalani operasi kuret ini sungguh menegangkan, apalagi bila mendengar cerita yang mengatakan bahwa kuret jauh lebih sakit dari melahirkan. Sungguh deg-degan, gerogi, takut sekaligus sedih bahwa pada akhirnya saya harus merelakan ini semua. Saya berdoa, cukup sekali ini saja, untuk pertama dan terakhir kalinya.  

Setelah tes covid, rontgen dan cek darah lengkap, saya dipindah dari ruang IGD ke kamar perawatan. Disana saya dipasang infus dan sempat juga dicek pembukaan, yang tentu saja hasilnya tidak ada pembukaan. Dalam hal ini, saya memang tidak ada rasa mules, pendarahan atau ngeflek seperti orang keguguran pada umumnya. Saya masih merasa seperti hamil biasa saja.


#.1 Proses Dilatasi

Malam hari, sekitar pukul 21.00 WIB, saya dibawa ke ruang bersalin untuk proses dilatasi. Proses ini berfungsi untuk melebarkan leher rahim agar memermudah proses kuret nantinya. Jadi, bagian “Miss. V” dimasukkan alat yang bernama  laminaria. Alat ini akan menyerap cairan pada leher rahim sehingga leher rahim mengembang dan melebar. Bentuk alatnya kayak gimana saya gak tau pasti, yang jelas saya cuma liat perawat memasukkan sebuah benda yang cukup panjang. 
Proses Kuret


Rasanya gimana?

Tentu tegang dan sakiiiiiitttt bangeet. Entah saya yang lebai atau gimana, yang jelas menurut saya sih sakit syekalih. Alat tersebut dipasang selama 12 jam hingga proses kuret esok hari. Setelah dipasang alat tersebut, efeknya perut menjadi mules seperti mau lahiran pembukaan 2. Ohya, setelah pemasangan alat, kita sudah tidak diperbolehkan makan dan minum hingga proses kuret keesokannya. 

Setelah dipasang alat, saya dikembalikan lagi ke kamar perawatan untuk beristirahat. 

#2. Proses Kuretase
Pasca Kuret, masih setengah sadar

Pagi hari, sekitar jam 07.00 WIB, saya dibawa lagi ke ruang bersalin untuk persiapan kuret. Saya diminta melepas pakaian bawah lalu berbaring dengan posisi kaki seperti mau melahirkan. Kemudian perawat melepas kain kasa yang semalam dimasukkan bersamaan dengan alat laminaria. 

Sembari menunggu proses kuret yang akan berlangsung jam 9 pagi, perawat menyiapkan segalanya. Memasang alat deteksi tekanan darah, memasang oksigen dan tak lupa saya juga menggunakan masker dan face shield lengkap. 

Jam 9 dokter datang, saya disuntikkan obat bius, lalu sudah tak ingat apa-apa lagi. 

Saat sadar, saya sempat berpikir “Kok lama banget sih, gak ditindak-tindak?”. Saya pun nengok ke kanan dan kiri. Sepi. Gak ada siapa-siapa. Saya cuma denger suara berisik perawat yang sedang ngobrol diluar sembari dongkol karena merasa kalau saya belum diberi tindakan juga. 

Lalu saya melirik jam yang berada tepat didepan saya. Ternyata sudah jam 10 dan saya juga baru sadar kalau kaki saya sudah lurus lagi, tidak diposisi seperti ingin melahirkan kayak sebelumnya. “Oh, ternyata udah selesai kuretnya, gak berasa ya” batin saya

Iya. Proses kuretnya memang tidak sakit sih menurut saya karena dibius total, cuma proses sebelumnya aja yang cukup membuat tegang.

Pasca kuret, saya kembali lagi ke ruang perawatan. Kepala masih pusing kliyengan, pengaruh dari obat bius, perut juga lumayan ngilu-ngilu sakit. Namun, setelah badan enakan dan kepala sudah gak pusing, saya sudah diperbolehkan pulang. Sekitar jam 4 sore saya sudah diperbolehkan pulang dari RS. Alhamdulillah.. 

Rasanya lega, sedih, galau, melow campur aduk jadi satu..

Hal-hal yang Tidak diperbolehkan Pasca Kuret

Pasca kuret akan keluar darah seperti darah nifas namun volumenya tentu lebih sedikit ketimbang pasca melahirkan. Darah ini keluar sekitar 1-2 minggu saja, saya sendiri kemarin baru bersih setelah 2 minggu lebih dikit.

Pasca kuret sebenarnya tidak ada pantangan, hanya saja belum boleh melakukan hubungan suami istri sebelum 3 minggu, belum boleh hamil dulu sebelum 3 bulan, jangan angkat-angkat berat terlebih dahulu karena bisa membuat perut nyeri dan ngilu. 

Untuk angkat berat ini sih yang paling tidak bisa saya hindari karena anak saya minta gendong muluu. Alhasil, setelahnya perut saya auto ngilu-ngilu nyeri. Pun kalau terlalu lama berdiri, kepala saya masih suka pusing dan kliyengan. 

Seminggu kemudian saya diminta datang kembali untuk kontrol post kuret, memastikan bahwa rahim sudah benar-benar bersih. Alhamdulillah, hasil kontrol, rahim saya sudah bersih dan saya sudah diperbolehkan beraktivitas seperti biasa. Akhirnya, semua sudah berhasil saya lewati.. Alhamdullillah.. 

Akhir kata, semangat semua buat buk ibu yang sedang mengalami hal ini, dan teruntuk ibu yang sedang hamil, jangan lupa jaga kesehatan. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya.. Amiiiinn.. 

Demikianlah pengalaman kuret yang telah saya jalani, Insyaallah ikhlas dan kuat. Semoga memang ini jalan yang terbaik. Amiiinn.. 


Salam,


11 comments

  1. Ikut lega proses kuret kak Tia berjalan lancar.
    Sempat deg-degan rasanya baca proses rangkaian tahapan pra operasi.

    Cepat membaik kesehatannya, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin mas hima..
      aku pun juga udah lega.. :)

      Delete
  2. Tegang sekali pas mau di kuret ya mbak, beruntung pas kuret tidak terasa karena sudah dibius total.

    Alhamdulillah masih bisa pakai BPJS kesehatan. Biarpun harus bayar rapid test tapi tidak apalah, masih terjangkau ini.

    Tetap semangat ya mbak Thya.😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi.. iya mas Alhamdulillah pakai BPJS, pengeluaran gak membengkak jadinya.. hehe

      Delete
    2. Alhamdulillah ya mbak, jadinya tidak mengeluarkan biaya banyak. Apalagi nyari duit sekarang lagi susah.

      Delete
  3. memang sih kalo pake BPJS agak ribet, seperti pengalaman kakak ipar saya, rujuk sana, urus berkas dan lain-lain. tapi meski begitu tetap bersyukur karena lewat layanan itu bisa terbantu

    ReplyDelete
  4. Jadi inget beberapa tahun silam saat istri saya di kuret juga, gak tega liatnya. Katanya sakitnya minta ampun. Mana saya baru habis kecelakaan lagi, jatuh dari motor. Saat itu masa-masa paling berat yang kami alami, dua-duanya hadi pasien 😭

    Dulu belum ada BPJS, mbak.. tapi beruntung kantor tempat saya bekerja menanggung semua biaya pengobatan.

    Proses operasi alhamdulillah berjalan lancar, semoga mbak juga demikian ya, dan bisa segera beraktivitas kembali seperti biasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mang, untungnya perusahaan sangat berbaik hati menanggung semuanya, tetap sehat

      Delete

  5. Memang bagi sebagian ibu2 banyak yang bilang kuret itu menakutkan...Istri sayapun mengatakan demikian. Cuma kalau harus langkahnya seperti itu demi kebaikan apapun tetap harus dilakukan yaa mbak THYA...Dan Bersyukur Kuret yang dilakukan mbak THYA berjalan dengan baik meski harus menggunakan Bpjs...Dan apa yang mbak THYA jelaskan diatas bisa buat panduan ibu2 lainnya jika harus mengalami Kuret.

    ReplyDelete
  6. Sama kaya orang2 yang baca ceritaku tentang jahitan perineun grade IV, yg katanya nyeri, linu dll, kali ini akupun merasakan mbak. Rasanya langsung nyut2an.

    Btw laminaria itu sama kaya cocor bebek yg buat pasang IUD ga mbak? selama proses berarti biusnya full ya mbak? aduh aku ngebayanginnya serem banget mbak.

    Syukurlah semuanya berjalan lancar ya mbak. Sehat2 ya mbak

    ReplyDelete
  7. Mbaaa, aku ngerasa ikut sakit pas bayangin proses dilatasi :(. Ga kebayang yaaa, udahlah sesakit itu, dan hrs merelakan si janin gugur. Rasanya seperti dobel sakitnya :(. Semoga semua ibu2 yg harus merasakan proses kuret ini, diberikan kekuatan dan akan kembali hamil setelah pulih.

    Makasih infonya mba thya.. tetep semangat yaaaa ;)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa berikan komentar juga ya ;)