Keguguran di Usia Kandungan 15 Minggu, Sebuah Cerita Patah Hatiku

Keguguran di Usia Kandungan 15 Minggu

Menuliskan hal ini sebenarnya mengorek-ngorek luka. Namun, Insyaallah saya sudah belajar mengikhlaskannya. Alhamdulillah Allah menguatkan saya sehingga saya mampu melewati masa-masa ini.. 

Jujur, kehamilan kedua ini memang tidak direncanakan karena memang sejak melahirkan Arfan, saya tidak menggunakan KB. Namun, meski demikian saya berusaha untuk KB alami dengan menggunakan sistem kalender. Tapi Siapa sangka, setelah 3 tahun, Allah menitipkan amanah lagi kepada saya. 

Saat itu, ketika tau bahwa saya positif hamil lagi, jujur ada rasa shock, kaget dan juga belum siap, mengingat Arfan yang masih kecil usianya. Saya khawatir tidak bisa berlaku adil, tidak bisa membersamai Arfan lagi, tidak punya banyak waktu untuk Arfan dan masih banyak kekhawatiran lainnya. Namun, disisi lain saya juga merasa bahagia karena dipercaya untuk memiliki anak lagi. 

Melow Sepanjang Kehamilan..

Memang saya akui, hamil kedua ini banyak pikiran berkecamuk. Hari-hari saya lalui dengan melow dan galau. Tak jarang saya tiba-tiba menangis saat sedang sendirian di kantor. Saya selalu kepikiran Arfan hingga rasanya sedih sekali.

Pun, saya memikirkan banyak omongan orang, termasuk orang tua saya yang seringkali menyalahkan dan menyudutkan atas kehamilan saya ini. Tentu dengan alasan, anak pertama saya masih kecil, seharusnya nanti saja hamil nya kalau Arfan sudah mulai besar. Makin sedih dan galau lah saya..

Saya yang menjalani kenapa semua orang yang repot. Bukankah ini sudah ketentuan-Nya.  Kehamilan adalah rezeki dari Allah yang patut disyukuri. Astagfirulloh, pikiran saya semakin kusut.

Drama melow makin menjadi ketika saya mendapati sebuah kabar tak mengenakkan. Saat usia kandungan memasuki 8 minggu, suami ditimpa musibah kecelakaan lalu lintas hingga mengalami patah tulang Clavicula. Pikiran semakin kusut, pusing, berat. Saya kesana kemari mendampingi suami untuk pengobatan, mulai dari pengobatan alternatif hingga berujung operasi karena pengobatan alternatif tersebut gagal. 

Lelah? Sudah pasti. Tapi saya mencoba untuk melawan rasa lelah tersebut. 

Kejanggalan Saat Kontrol Kehamilan 

Saat memasuki usia kehamilan 11 minggu, saya melakukan kontrol kehamilan yang kedua. Disinilah kejanggalan bermula. Dari hasil USG, ukuran janin saya masih sangat kecil, hanya 1 cm. Lalu saya bandingkanlah dengan USG saat hamil Arfan. Dan ternyata perbedaannya memang cukup signifikan.  Dari sini pikiran-pikiran buruk mulai menghantui.

Bidan pun meresepkan asam folat untuk mengejar perkembangan janin saya. Beliau pun menenangkan agar saya tidak perlu panik dan khawatir supaya janin tidak stres. Hal ini bisa saja terjadi, bisa saja kesalahan menghitung HPHT (Hari pertama haid terakhir) sehingga usia kandungan yang diperkirakan tidak sesuai. Saya sedikit lega mendengar penjelasan tersebut.

Hari demi hari berlalu, kepanikan mulai muncul lagi ketika saya mendapati seperti ada cairan yang merembes keluar dari miss. V saya. Saya khawatir sekali, takut cairan yang keluar itu adalah cairan ketuban. Saya pun segera konsultasi dengan bidan dan akhirnya diobservasi selama beberapa hari. Kesimpulannya, cairan tersebut hanyalah keputihan. Alhamdulillah, sedikit lega.

Namun kepanikan lagi-lagi muncul, entah mengapa saya merasa perut semakin kempes dan lembek. Padahal seharusnya semakin bertambah usia kandungan, perut semakin keras. Tapi hal itu tidak saya rasakan. Akhirnya di minggu ke-15, saya kontrol kehamilan lagi. 

Dan disinilah, tragedi itu terjadi..

Saya kontrol di bidan dan mendapati bahwa ukuran janin saya masih sama seperti bulan lalu. Akhirnya bidan merujuk saya untuk mendatangi dokter langsung ke klinik karena dokter sedang ada jadwal praktek disana (pada saat itu sedang tidak ada dokter di bidan). Bidan tidak berani bilang apa-apa, dia hanya bilang biar dokter saja yang menjelaskan, semoga semua baik-baik saja.

Dan benar saja, saat kontrol ke dokter kandungan, Hasil USG menunjukkan bahwa janin saya berhenti berkembang, denyut jantungnya sudah tidak ada, panjang janin hanya 1,3 cm. Yang mana panjang janin tersebut adalah janin untuk usia 8 minggu. Jadi diperkirakan janin saya sudah berhenti berkembang sejak usia 8 minggu. Ya Allah, air mata menetes begitu saja. 


Fyi, selama kontrol kehamilan, saya kontrol di bidan. Dan alat USG disana juga tidak bisa deteksi detak jantung, pun saya tidak ditangani dengan dokter langsung karena jadwal visit dokter di bidan tersebut hanya 2 minggu sekali. 

Penyesalan datang bertubi-tubi, membuat saya terus berandai-andai. Andai saja, saat pertama kali kontrol langsung ke dokter kandungan, pasti langsung di USG, cek detak jantung dll sehingga bila terjadi kejanggalan, penanganannya akan lebih tepat. Terkadang saya juga berpikir, apa Allah marah karena banyak yang menentang ketentuan-Nya?

Asudahlah.. semua sudah berlalu. Mungkin memang sudah seperti ini kehendak-Nya. saya hanya bisa menerima dan mengikhlaskan. Allah yang menitipkan, Allah pula yang berhak untuk mengambil kembali titipan-Nya. 

Saya harus menerima kenyataan, bahwa pada akhirnya saya harus dilakukan tindakan kuret untuk mengeluarkan janin serta membersihkan rahim. 

Namun, yang membuat saya makin sedih adalah ketika Arfan sudah mulai mengerti bahwa dirinya akan memiliki adik, dia terus menanyakan “dedeknya disebelah mana?” sambil elus-elus dan cium perut saya. Kadang sambil diajak ngobrol “dedek jangan nangis ya, ada arfan disini?” MasyaAllah, rembes air mata saya.

Penyebab Keguguran Atau Janin Berhenti Berkembang

Menurut dokter, ada berbagai faktor yang menyebabkan janin berhenti berkembang. Bisa karena kelelahan, kelainan kromosom, infeksi atau memang kualitas sel telur atau sperma yang kurang baik. Bisa juga karena plasenta yang tidak berfungsi optimal, gaya hidup yang kurang baik, seperti pola makan yang buruk serta sering konsumsi rokok sehingga menyebabkan sperma atau sel telur kurang berkualitas dan masih banyak penyebab lainnya.

Namun sekali lagi, memang sudah seperti ini kehendak-Nya. Mungkin memang ini jalan yang terbaik 
untuk saya. 

Sungguh, tahun 2020 ini saya merasa diuji bertubi-tubi. Suami kecelakaan, saya keguguran, tante saya meninggal. Terkadang saya menanyakan, kenapa ujian ini bertubi-tubi, kenapa Allah menghadirkan kesedihan-kesedihan ini..

Namun saat ini, saya sudah berusaha menerima dan ikhlas. Saya sadar bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Allah Maha Tahu atas segala kehendakNya. Semoga kesedihan-kesedihan ini mampu meringankan dosa-dosa saya yang telah lalu. Amiin Allahuma Amiinn..

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.. 

Salam,





26 comments

  1. yang sabar mba, mungkin itu terlalu banyak pekerjaan dan pikiran sehingga begitu

    ReplyDelete
  2. mak thyaaa sayaaaaang hanya bisa memeluk dirimu...:*, insyaAlloh ini sudah ketentuannya Ty...ga pa pa...sudah takdir :)

    dulu anak aku yang pertama juga begitu thya..malah dari awal ga ada detak jantung nya di usia 7 week yang harusnya dah ada...ini ga ada dari awal...istilah medisnya BO...blighted ovum...dia memang akan gugur sendiri kalau tidak kuat tapi ada pula yang sampai harus dikuret, kayak aku dulu juga dikuret...ya awalnya flek flek trus dan aku sempat merasa bersalah karena waktu itu sempat ada tragedi naik krl yang mana aku ga dipercaya sedang hamil soalnya masih kempis kan hamilnya masih hamil muda pas duduk di korsi prioritas hiks...lalu banyak terbawa hormon juga karena masih rempong kerja jakarta tangerang pp say...akhirnya flek flek trus, diresepin preabor tetep ga kuat, gugurlah itu...

    ya memang pas kayak gitu rasanya sakiiiit banget, langsung sedih ga karuan..karena anak pertama nunggunya lama setahun...eh belom jadi. tapi memang sudah takdir, pastilah uda jadi ketetepannya di balik itu semua kan...

    semangat ya say.. nanti akan digantikan dengan yang lebih baik

    (´∧ω∧`*)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak mak nitaa.. :)
      kalo aku gak ada flek-flek, makanya gak ada kecurigaan kesana mak.. huhu..

      ngomongin naik krl, aku pun begitu mak.. hamil muda kan masih kempes ya perutnya, jadi ga ada yg percaya kalo hamil. pun kalo kursi penuh gak ada yang kasih tempat duduk, padahal lagi lemes-lemesnya. huhu.. sedih..

      Delete
  3. etapi klo dari obgyn aku janin tidak berkembang bukan karena kitanya yg banyak kerjaan atau apa sih...melainkan bener memang kelainan kromosom, infeksi atau memang kualitas sel telur atau sperma yang kurang baik...jadi itu udah takdir mak...singkirkan perasaan merasa bersalah ya, smangat ^___^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mak.. mungkin memang kualitasnya yang lagi kurang bagus aja kali ya..
      iya mak, semua udah takdir Allah, semoga ada gantinya yang lebih baik.. Amiinn..

      Delete
  4. Sabar mbak thya, ujian buat mbak supaya bisa punya ilmu ikhlas mungkin. Karena hanya dititipi pasti sewaktu-waktu bisa diambil lagi.

    Semoga nanti mbak dan keluarga dipercaya lagi saat benar2 siap. Semangat mbak thya :)

    ReplyDelete
  5. Wah yang sabar ya.. Turut prihatin dengan musibah yang Mbak alami.. Seperti yang orang-orang bilang,, ambil hikmahnya saja...

    ReplyDelete
  6. Yang sabar ya mbak thya, turut sedih karena keguguran. Semoga saja nanti diberikan amanah untuk punya anak lagi.

    Semoga mbak thya tetap tabah menghadapi segala ujian, suami kena kecelakaan, Tante meninggal dunia dan tentu saja keguguran ini.

    ReplyDelete
  7. Peluk dulu sini mbak, yang sabar ya, ingatlah selalu ada pelangi sehabis hujan.
    Aku turut beduka cita ya mbak, yang kuat.
    Tetangga samping rumahku persis juga pernah ngalamin janin ga berkembang kaya mbak, tp Puji Tuhan skrg udah hamil lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinnn..
      terimakasih doanya mba ursula..

      Delete
  8. Yang Sabar yaa mbak Thya...Mungkin ini cobaan dalam rumah tangga...Dan mungkin kekhawatiran yang mbak Thya alami didengar oleh Allah.S,W,T. Ketimbang kesananya lebih terbebani dan berakibat buruk....Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah Allah.S,W,T berikan kepada mbak Thya dan keluarga.

    Intinya ikhlaskan saja semuanya dan tentunya Allah.S,W,T punya rencana terbaik pada setiap umatnya Amiin.🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinn.. Amiiinn..
      makasih banyak doanya mas sat 😊

      Delete
  9. mba... aku ikut sedih bacanya... tapi aku percaya, semua ketentuan Allah itu udah yang terbaik, walopun mungkin kita masih belum ngerti hikmahnya apa.. yg sabar dan ikhlas ya mba :). insyaallah digantikan saat waktunya sudah tepat..

    ReplyDelete
  10. Ya Allah :'(

    Yang sabar ya Mbak
    Insya Allah anak soleh itu nanti yang akan menyelamatkan kedua orangtuanya di akhirat

    Mudah-mudahan nanti Allah memberikan kesempatan membesarkan anak baru lagi ya Mbaak dan Mas kuu

    Aamiiinnn
    Aaamiiinnn

    ReplyDelete
  11. ya allah mba tya, aku sedihh
    yang sabar mbak, insyaallah nanti ada waktu yang tepat lagi dari Allah
    aku percaya mba tya kuat. big hug jauh dari sini

    ReplyDelete
  12. Ya Allah sayangkuhhhh, sini peluk dulu, masha Allaaahh, kebayang banget bagaimana perasaan dirimu, menulis ini sungguh merupakan sebuah hal naik kelas yang paling hebat buatmu say.

    Saya membacanya aja, rasanya nggak sanggup, karena sejujurnya, apa yang Tya tulis ini, selalu memenuhi pikiran saya bahkan ketika saya hamil pertama kali, takut janin nggak berkembang, takut keguguran, takut dikuret.

    Lalu pas di kakak masih 36 week dipaksa operasi, padahal saya nggak merasa apa-apa, astagaaaa... itu perasaan berkecamuk, mikir, ini si kakak udah bisa hidup nggak kalau keluar sekarang.

    Itu masih ada peluang, kebayang perasaanmu say, dengan banyaknya cobaan yang menimpa.

    Tapi bener banget say, insha Allah sudah ada sebuah kebahagiaan hakiki yang menanti di depan say, insha Allah.
    Allah mengambil satu, bakal diganti 10 bahkan lebih.
    So, semangat selalu yaaaa :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih mbaa.. hikss..
      Amiiinn mbaaa, semoga Allah kasih lagi nanti disaat yang tepat..

      Delete
  13. Sabar Tante tia??? Mungkin itu sudah jalan terbaik tuhan, semoga dedek bayi ditempatkan terbaik disisinya dan buat Tante semoga diberikan kekuatan dan keikhlasan tuk terima itu semua berat sih memang tapi itulah kenyataan hidup. Tetap semangat, sehat selalu, dan tegar. 👌👌👌

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa berikan komentar juga ya ;)